JAWA KILAT
Mode Gelap
Artikel teks besar

Upacara HUT ke-81 RI di Tengah Sungai, Warga Desa Ngindeng Pilih Lokasi Tak Biasa

Upacara HUT ke-81 RI di Tengah Sungai, Warga Desa Ngindeng Pilih Lokasi Tak Biasa
Upacara HUT ke-81 di Ngindeng (Dok. Ist) 


JawaUpdate.com – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, berlangsung dengan suasana yang tidak biasa. 

Pemerintah desa menggelar upacara bendera di area sungai yang menjadi bagian dari aliran Waduk Bendo, Senin (17/8).

Upacara tersebut berlangsung tepat di bawah jembatan lama yang sudah puluhan tahun berdiri dan memiliki cerita tersendiri bagi masyarakat setempat. 

Lokasi ini sengaja dipilih karena jembatan lama tersebut rencananya akan digantikan dengan jembatan baru pada tahun depan.

Kepala Desa Ngindeng Bima Sakti Putra menjelaskan, pemilihan lokasi bukan sekadar untuk membuat perayaan kemerdekaan terlihat berbeda. 

Pemerintah desa ingin mengabadikan keberadaan jembatan lama yang dianggap memiliki nilai sejarah bagi warga.

“Karena ada nilai historikal, kesempatan hari ini kita mengambil momentum upacaranya yang ada di sungai,” ujarnya.

Menurut Bima, kawasan tersebut juga memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Karena itu, momentum peringatan kemerdekaan dianggap sebagai waktu yang tepat untuk mengenang nilai historis lokasi tersebut.

Selain membawa pesan sejarah, upacara di sungai juga menjadi bagian dari ajakan kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan. 

Pemerintah desa ingin menunjukkan bahwa sungai yang bersih dan terawat bisa memiliki manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Ke depan, kawasan sungai tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi salah satu daya tarik wisata air di Desa Ngindeng. 

Potensi itu dinilai bisa membuka peluang ekonomi baru sekaligus mendukung rencana pemerintah desa mengembangkan Ngindeng sebagai desa wisata.

Namun, pelaksanaan upacara di tengah sungai bukan tanpa tantangan. Para anggota Paskibra harus berlatih di medan yang berbeda dari biasanya. 

Permukaan yang tidak rata, kondisi cukup curam, serta area yang licin menjadi beberapa kendala yang mereka hadapi.

Salah satu anggota Paskibra, Valen Yolanda Anindita, 17 tahun, mengatakan kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. 

Selain baru pertama kali menjadi petugas pengibar bendera, ia juga baru pertama kali mengikuti upacara di area sungai.

Persiapan pun dilakukan dalam waktu cukup singkat. Valen dan anggota Paskibra lainnya hanya memiliki waktu sekitar dua hari untuk berlatih di lokasi tersebut.

Menurut Valen, kondisi medan membuat latihan menjadi lebih sulit. Ia bahkan sempat terpeleset ketika berlatih karena permukaan di sekitar lokasi licin.

Meski begitu, keterbatasan medan tidak menyurutkan semangat para petugas. Upacara tetap berlangsung dengan membawa suasana kemerdekaan yang kuat.

Kegiatan tersebut akhirnya menjadi momen yang berbeda bagi masyarakat Desa Ngindeng. Jembatan tua, aliran sungai, dan kibaran Merah Putih berpadu dalam satu perayaan kemerdekaan.

Bagi pemerintah desa, upacara tersebut bukan hanya seremoni tahunan. Ada pesan tentang sejarah yang ingin dikenang, lingkungan yang perlu dijaga, serta potensi wisata yang ingin dikembangkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara bagi para petugas Paskibra, pengalaman mengibarkan Merah Putih di tengah sungai menjadi cerita tersendiri yang kemungkinan akan terus dikenang. 

Apalagi, lokasi tersebut rencananya akan mengalami perubahan setelah pembangunan jembatan baru dilakukan tahun depan.

Posting Komentar