Unik! Wayang Cangkem di Magetan Hadirkan Iringan Gamelan dari Suara Mulut
![]() |
| Wayang cangkem dari Magetan yang mendadak viral (Dok. Ist) |
JawaUpdate.com – Kesenian wayang kulit umumnya selalu diiringi alunan gamelan yang dimainkan oleh para niyaga. Namun berbeda dengan yang dilakukan sekelompok seniman di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Mereka menghadirkan pertunjukan wayang dengan konsep yang tidak biasa, yakni seluruh suara gamelan ditirukan menggunakan mulut manusia.
Kelompok seni tersebut dikenal dengan nama Wayang Cangkem. Dalam bahasa Jawa, "cangkem" berarti mulut.
Nama itu dipilih karena seluruh iringan musik dalam pertunjukan mereka dihasilkan melalui kemampuan para personel menirukan bunyi berbagai instrumen gamelan secara langsung.
Wayang Cangkem bermarkas di Desa Sukowidi, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan. Kelompok ini menjadi salah satu contoh kreativitas seniman daerah dalam menjaga kelestarian budaya tradisional di tengah berbagai keterbatasan.
Dalam setiap pementasan, Wayang Cangkem diperkuat oleh delapan orang. Susunan personelnya terdiri dari satu dalang, dua sinden, serta lima anggota yang bertugas menciptakan suara-suara gamelan menggunakan teknik vokal khusus.
Meski terdengar sederhana, kemampuan menirukan bunyi instrumen gamelan membutuhkan latihan dan kekompakan yang tinggi.
Karena itu, para anggota rutin berlatih bersama menjelang jadwal pementasan agar iringan yang dihasilkan tetap harmonis dan mendukung jalannya cerita wayang.
Kelompok seni ini telah berdiri sejak tahun 2017 dan terus bertahan hingga sekarang. Mereka biasanya mendapatkan banyak undangan tampil saat memasuki bulan Suro dalam kalender Jawa maupun pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap bulan Agustus.
Tidak hanya unik dari sisi musik pengiring, Wayang Cangkem juga menunjukkan kreativitas dalam penggunaan properti pertunjukan.
Karena keterbatasan biaya, tidak semua tokoh wayang dibuat dari kulit seperti wayang pada umumnya. Sebagian di antaranya dirancang menggunakan bahan alternatif seperti kardus dan kain karpet.
Meski tampil dengan perlengkapan yang sederhana, semangat para seniman Wayang Cangkem tidak pernah surut.
Bagi mereka, pementasan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk pelestarian budaya warisan leluhur yang harus terus dikenalkan kepada generasi muda.
Selain menjaga tradisi, kegiatan pentas juga menjadi sumber tambahan penghasilan bagi para anggota yang memiliki pekerjaan utama berbeda-beda.
Ada yang berprofesi sebagai pedagang bakso keliling hingga penjual bubur, namun tetap meluangkan waktu untuk berkesenian.
Keberadaan Wayang Cangkem membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
Dengan kreativitas dan semangat melestarikan budaya, kelompok seni asal Magetan ini mampu menghadirkan pertunjukan wayang yang unik sekaligus menarik perhatian masyarakat.
