Akses Terputus Saat Banjir, Anak-anak Karangsengon Ponorogo Sering Libur Sekolah
![]() |
| Momen para orang tua menggendong anaknya saat hendak ke sekolah (Dok. Ist) |
JawaUpdate.com - Warga Dusun Karangsengon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, kembali menghadapi persoalan serius saat musim hujan tiba.
Akses utama berupa penyeberangan sungai sering terputus akibat banjir, sehingga aktivitas masyarakat lumpuh total.
Sungai tersebut menjadi satu-satunya jalur keluar masuk dusun. Ketika debit air meningkat, arus menjadi deras dan ketinggian air membahayakan keselamatan warga. Akibatnya, mereka tidak berani menyeberang.
Salah satu warga, Katijem, mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung lama. Setiap hari, warga harus melewati sungai tersebut untuk bekerja, bersekolah, maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Tiap hari lewat sini, tidak ada jalan lain. Kalau banjir ya nggak masuk sekolah, nggak bisa nyeberang. Jalan satu-satunya di sini," ujar Katijem, Kamis (12/2)
Menurut Katijem, saat banjir besar, ketinggian air bisa mencapai pinggang orang dewasa. Dalam kondisi seperti itu, warga memilih tidak mengambil risiko.
"Pernah banjir sepinggang ya nggak berani. Biasanya tiga hari nggak nyeberang," katanya.
Meski terkadang ada warga yang membantu menyeberangkan orang lain, saat banjir besar jalur tersebut benar-benar tidak bisa digunakan
Dulu, warga sempat membangun jembatan dari bambu secara swadaya. Namun, jembatan tersebut sudah dua kali rusak akibat terjangan banjir dan kini tidak dapat dipakai lagi.
Saat akses terputus, warga Karangsengon benar-benar terisolasi. Mereka kesulitan membeli bahan makanan maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Katijem mengungkapkan, pernah suatu waktu warga hanya mengandalkan persediaan seadanya.
"Kalau banjir, anak-anak tidak masuk sekolah, mau makan pun juga nggak bisa. Sampai satu minggu pernah. Kemarin itu ada empat hari nggak makan, cuma makan nasi saja digoreng," ungkapnya.
Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil dan lansia.
Keluhan serupa disampaikan Soiman, warga setempat lainnya. Ia mengatakan bahwa anak-anak di dusun tersebut sering terpaksa libur sekolah saat banjir melanda.
Saat ini, terdapat sekitar lima siswa di Karangsengon, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Namun, mereka tidak bisa berangkat sekolah jika sungai meluap.
Soiman juga menceritakan bahwa pada tahun 2006, pernah dibangun jembatan permanen di lokasi tersebut. Namun, jembatan itu hanya bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya rusak akibat banjir.
Sejak saat itu, warga hanya mengandalkan penyeberangan manual atau jembatan darurat dari bambu.
Sebenarnya, ada jalur alternatif menuju wilayah seberang sungai. Namun, jaraknya cukup jauh, sekitar tiga kilometer, dan harus melewati area pemakaman.
Karena itu, jalur tersebut jarang digunakan, terutama oleh anak-anak dan warga lanjut usia.
Saat ini, Dusun Karangsengon hanya dihuni sekitar enam kepala keluarga. Sebagian warga memilih pindah ke wilayah seberang sungai karena sulitnya akses.
Jika banjir datang dan persediaan bahan pokok habis, warga yang tersisa hanya bisa menunggu air surut sebelum membeli kebutuhan.
Warga mengaku sudah beberapa kali mengajukan permohonan pembangunan jembatan kepada pihak terkait. Namun, hingga kini belum ada hasil nyata.
Menurut mereka, jumlah penduduk yang sedikit menjadi alasan utama belum terealisasinya pembangunan jembatan.
Kepala Desa Sidoharjo, Sarmin, membenarkan bahwa wilayahnya memiliki dua titik penyeberangan sungai, yaitu di Karangsengon dan Sidowayah.
Ia mengakui bahwa pembangunan jembatan di Karangsengon terkendala keterbatasan dana desa.
Meski begitu, Sarmin menyebut ada rencana bantuan dari pihak TNI melalui Dandim untuk salah satu titik penyeberangan di wilayahnya tahun ini.
Bagi warga Karangsengon, keberadaan jembatan yang aman dan permanen sangat dibutuhkan. Bukan hanya untuk mempermudah aktivitas sehari-hari, tetapi juga demi keselamatan dan masa depan anak-anak.
Mereka berharap pemerintah daerah dan pihak terkait bisa segera memberikan solusi jangka panjang agar dusun kecil ini tidak lagi terisolasi setiap kali musim hujan datang.
