Apakah Puasa Senin Kamis Bisa Digabung dengan Puasa Ganti Ramadhan? Ini Penjelasan Lengkapnya
![]() |
| Ilustrasi orang yang akan mengganti puasa (Dok. Ist) |
JawaUpdate.com - Saat ingin menjalankan puasa sunnah, sering kali muncul satu pertanyaan penting di benak kamu, terutama bagi wanita: apakah puasa Senin Kamis bisa digabung dengan puasa ganti Ramadhan?
Pertanyaan ini wajar, karena di satu sisi kamu ingin melunasi utang puasa wajib, tapi di sisi lain juga ingin mendapatkan keutamaan puasa sunnah. Kabar baiknya, para ulama sudah lama membahas persoalan ini secara mendalam.
Keutamaan Puasa Senin dan Kamis
Puasa Senin dan Kamis termasuk puasa sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW dikenal rutin menjalankannya, bahkan hampir tidak pernah meninggalkannya.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi SAW memilih hari Senin dan Kamis untuk berpuasa.
Salah satu alasannya karena amal perbuatan manusia dilaporkan kepada Allah pada dua hari tersebut. Rasulullah ingin amalnya disampaikan dalam keadaan sedang berpuasa.
Selain itu, hari Senin juga memiliki keistimewaan tersendiri. Pada hari inilah Rasulullah SAW dilahirkan dan menerima wahyu pertama. Karena keutamaannya yang besar, banyak umat Islam menjadikan puasa Senin Kamis sebagai amalan rutin.
Apa Itu Puasa Qadha Ramadhan?
Puasa qadha adalah puasa wajib yang dilakukan untuk mengganti puasa Ramadhan yang tertinggal.
Biasanya ini dialami oleh orang yang memiliki uzur syar’i, seperti wanita haid atau nifas, orang sakit, musafir dan kondisi tertentu yang membuat puasa Ramadhan tidak bisa ditunaikan.
Karena statusnya wajib, puasa qadha memiliki kedudukan yang lebih kuat dibanding puasa sunnah.
Apakah Puasa Senin Kamis Bisa Digabung dengan Puasa Ganti Ramadhan?
Sebagian ulama berpendapat bahwa jika puasa wajib dan puasa sunnah digabung dalam satu niat, maka yang sah adalah puasa wajibnya. Artinya, puasanya tetap sah sebagai qadha Ramadhan, tetapi pahala puasa sunnahnya tidak dihitung secara khusus.
Namun, ada juga pendapat ulama lain yang lebih longgar. Beberapa ulama besar dari mazhab Syafi’i, seperti Ibnu Hajar Al-Haitami dan Syekh Ar-Ramli, menjelaskan bahwa puasa sunnah bisa “ikut” didapatkan pahalanya meski niat utamanya adalah qadha.
Logikanya mirip seperti salat tahiyatul masjid. Saat kamu salat sunnah lain di masjid, kewajiban tahiyatul masjid otomatis sudah tercakup.
Dengan kata lain, jika kamu berpuasa qadha Ramadhan tepat di hari Senin atau Kamis, maka puasa qadha tetap sah, pahala puasa sunnah Senin Kamis juga bisa kamu dapatkan.
Kalau kamu ingin menggabungkan keduanya, cukup niat puasa qadha Ramadhan saja. Tidak perlu membaca dua niat sekaligus. Niat dalam hati sudah cukup, dan secara lafaz biasanya berbunyi:
“Saya niat puasa untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Dengan niat ini, kamu tetap menunaikan kewajiban, sekaligus berharap keutamaan hari Senin atau Kamis.
Meski boleh digabung, melunasi utang puasa Ramadhan tetap harus jadi prioritas utama. Puasa sunnah boleh dikerjakan kapan saja, sementara puasa qadha adalah tanggungan yang wajib diselesaikan.
Kalau kamu bisa menggabungkan niat dan waktunya pas, itu tentu lebih praktis dan tetap bernilai ibadah.
Jadi, menjawab pertanyaan apakah puasa senin kamis bisa digabung dengan puasa ganti ramadhan, jawabannya adalah boleh, menurut banyak ulama, terutama dalam mazhab Syafi’i.
