JAWA KILAT
Mode Gelap
Artikel teks besar

Salut! Warga Bener Meriah Rela Rogoh Kocek Rp1,08 Miliar Demi Bangun Jembatan Darurat

Salut! Warga Bener Meriah Rela Rogoh Kocek Rp1,08 Miliar Demi Bangun Jembatan Darurat
Jembatan yang berhasil dibangun warga Aceh secara mandiri (Dok. Ist) 


JawaUpdate.com – Semangat gotong royong kembali ditunjukkan masyarakat Aceh. Warga di kawasan Enang-Enang, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, berhasil membangun jembatan dan memperbaiki akses jalan darurat secara mandiri menggunakan dana swadaya yang mencapai sekitar Rp1,08 miliar.

Pembangunan tersebut dilakukan sebagai respons atas rusaknya jalur akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. 

Kerusakan itu sempat menghambat aktivitas masyarakat karena jalur yang menghubungkan Bireuen dan Takengon menjadi sulit dilalui.

Jembatan darurat tersebut diresmikan dalam acara sederhana pada Kamis (2/7). Sebelum dibuka untuk umum, masyarakat menggelar doa bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar fasilitas tersebut dapat memberikan manfaat dan keselamatan bagi seluruh pengguna jalan.

Penggagas pembangunan, Sahrial Abadi, mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh warga dan para donatur yang ikut membantu mewujudkan proyek tersebut. Menurutnya, jalan kini sudah bisa digunakan karena proses pengaspalan telah selesai.

“Hari ini jalan resmi kita buka. Warga sudah bisa melintas karena proses pengaspalan telah selesai. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,” kata Sahrial.

Ia juga memaparkan bahwa dana yang berhasil dikumpulkan dari masyarakat dan para donatur mencapai sekitar Rp1,08 miliar. 

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp526 juta telah digunakan untuk berbagai kebutuhan pembangunan, mulai dari operasional alat berat, pembelian material, pengerasan jalan, pembangunan jalan darurat, perbaikan jembatan, hingga pengaspalan.

Sementara itu, sisa anggaran sekitar Rp555,89 juta masih akan dimanfaatkan untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan yang belum rampung. 

Beberapa di antaranya meliputi pembangunan dinding penahan jalan, fasilitas tempat wudhu, serta penyempurnaan area istirahat di sekitar jembatan.

Sahrial menegaskan bahwa seluruh proses pengelolaan dana dilakukan secara terbuka. Panitia berkomitmen terus memberikan laporan kepada masyarakat mengenai penerimaan maupun penggunaan dana sebagai bentuk tanggung jawab kepada para penyumbang.

Inisiatif pembangunan ini muncul karena warga menilai perbaikan infrastruktur permanen membutuhkan waktu yang cukup lama. 

Berdasarkan informasi yang mereka terima, pembangunan jembatan permanen oleh pemerintah pusat baru dijadwalkan mulai pada 2027.

Tidak ingin aktivitas masyarakat terus terganggu, warga Bener Meriah bersama masyarakat Aceh Tengah akhirnya memilih menggalang dana secara mandiri dan bergotong royong membangun akses darurat agar transportasi kembali berjalan.

Sebelumnya, kerusakan jalur nasional Bireuen–Takengon menyebabkan distribusi logistik dan kebutuhan pokok menjadi terhambat. Warga juga harus menempuh rute alternatif yang lebih jauh sehingga biaya dan waktu perjalanan meningkat.

Langkah masyarakat tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Mereka menilai semangat gotong royong yang ditunjukkan warga menjadi bukti kuatnya solidaritas sosial dalam menghadapi situasi darurat.

Meski demikian, masyarakat tetap diimbau berhati-hati saat melintasi jembatan tersebut. Infrastruktur yang dibangun masih bersifat darurat dan belum menjalani pengujian teknis sebagaimana jembatan permanen.

Selain itu, kendaraan bermuatan berat seperti truk besar dan tronton diminta tetap menggunakan jalur alternatif resmi. 

Pembatasan tersebut dilakukan untuk menjaga kondisi struktur jalan dan jembatan agar tetap aman hingga pembangunan permanen oleh pemerintah dapat direalisasikan.

Posting Komentar