JAWA KILAT
Mode Gelap
Artikel teks besar

1.487 Hotspot Terdeteksi di Kalimantan, DPR Desak Penanganan Karhutla Lebih Serius

1.487 Hotspot Terdeteksi di Kalimantan, DPR Desak Penanganan Karhutla Lebih Serius
Karhutla di Kalimantan (Dok. Ist)


JawaUpdate.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan mendapat perhatian serius dari DPR. 

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman meminta pemerintah meningkatkan penanganan karhutla dan menjadikannya sebagai prioritas nasional.

Alex menilai dampak kebakaran sudah meluas, mulai dari kualitas udara, kesehatan, pendidikan, transportasi hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

"Penanganan Karhutla Kalimantan ini mesti segera jadi prioritas nasional," kata dia.

Menurutnya, kondisi cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Nino turut meningkatkan risiko kebakaran. Periode Agustus-September 2026 diperkirakan menjadi salah satu masa yang perlu diwaspadai.

Alex mengingatkan kejadian serupa pada 1997-1998. Saat itu, fenomena El Nino turut memperparah kebakaran yang melanda jutaan hektare lahan di Kalimantan dan menimbulkan dampak lingkungan besar di Asia Tenggara.

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 19 Agustus 2026, terdapat 1.487 titik panas yang terdeteksi di wilayah Kalimantan.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi, disusul Kalimantan Barat dan sejumlah provinsi lainnya.

Kondisi tersebut juga berdampak terhadap kualitas udara. Di Palangka Raya, indeks kualitas udara (AQI) dilaporkan mencapai 487 pada 19 Agustus 2026. Angka tersebut masuk kategori berbahaya.

Kabut asap juga mengganggu aktivitas pendidikan. Dinas Pendidikan setempat menunda jam masuk sekolah SD dan SMP hingga pukul 08.00 WIB. Sementara itu, kegiatan belajar bagi anak PAUD dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh.

Jarak pandang di sejumlah wilayah juga menurun drastis hingga sekitar 1,4 kilometer sehingga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan pengguna jalan.

Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah. Status tanggap darurat karhutla di daerah tersebut bahkan diperpanjang hingga 4 September 2026.

Alex menyebut karhutla di Kobar telah mencapai 189 kejadian dengan luas lahan yang terbakar sekitar 859,49 hektare. Selain itu, terdapat 461 titik panas yang terpantau.

Kecamatan Arut Selatan dan Kumai menjadi wilayah yang paling banyak terdampak. Di Arut Selatan tercatat 98 kejadian yang membakar sekitar 180,475 hektare lahan dengan 226 titik panas.

Sementara di Kecamatan Kumai terdapat 63 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 584,41 hektare.

Alex menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Pemerintah perlu memperkuat langkah pencegahan, terutama di wilayah yang memiliki risiko tinggi.

Menurutnya, sistem deteksi dini berbasis satelit perlu terus dikembangkan agar titik api dapat diketahui lebih cepat. Patroli di kawasan rawan juga harus diperkuat.

Selain itu, masyarakat perlu dilibatkan dalam upaya pencegahan. Program Desa Peduli Api serta pelatihan mengenai pembukaan lahan tanpa membakar dinilai perlu diperluas.

Alex menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan strategi jangka panjang. Upaya tersebut mencakup pencegahan kebakaran, peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.

Dengan dampak yang semakin luas, pemerintah dinilai perlu bergerak lebih cepat agar karhutla di Kalimantan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Posting Komentar