Tradisi Larungan di Telaga Ngebel, Warisan Budaya yang Masih Dilestarikan Masyarakat Ponorogo
![]() |
| Tradisi larungan di Telaga Ngebel (Dok. Ist) |
JawaUpdate.com - Tradisi larungan di Telaga Ngebel merupakan salah satu warisan budaya yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat Ponorogo, Jawa Timur.
Tradisi yang digelar setiap datangnya bulan Suro dalam kalender Jawa ini menjadi bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus doa bersama agar masyarakat terhindar dari berbagai bencana dan mendapatkan keselamatan sepanjang tahun.
Jika kamu berkunjung ke Telaga Ngebel saat bulan Suro, suasana sakral dan kental dengan budaya Jawa akan sangat terasa.
Telaga Ngebel sendiri berada di kaki Gunung Wilis, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Danau alami yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan cerita legenda.
Legenda Baruklinting di Balik Telaga Ngebel
Masyarakat setempat meyakini bahwa Telaga Ngebel memiliki kaitan erat dengan kisah Baruklinting. Legenda tersebut menceritakan tentang sepasang suami istri yang lama mendambakan seorang anak.
Doa mereka akhirnya terkabul, namun anak yang lahir justru berwujud ular naga dan diberi nama Baruklinting.
Kedua orang tuanya terus berusaha agar Baruklinting dapat berubah menjadi manusia. Mereka kemudian mendapatkan petunjuk bahwa Baruklinting harus bertapa dengan melingkari Gunung Wilis selama ratusan tahun.
Setelah masa pertapaan hampir selesai, berbagai peristiwa terjadi hingga akhirnya Baruklinting berubah menjadi seorang anak kecil.
Suatu ketika, ia datang ke sebuah pesta besar di desa dan meminta makanan. Namun, permintaannya ditolak bahkan ia dihina oleh warga. Hanya seorang wanita tua bernama Nyi Latung yang berbaik hati menolongnya.
Tak lama kemudian, Baruklinting mengadakan sayembara mencabut sebatang lidi yang ditancapkan ke tanah.
Tidak ada satu pun warga yang berhasil mencabutnya. Saat Baruklinting mencabut lidi tersebut, air memancar deras dari dalam tanah hingga menenggelamkan desa. Dari peristiwa itulah dipercaya terbentuk Telaga Ngebel yang ada hingga sekarang.
Rangkaian Tradisi Larungan di Telaga Ngebel
Pelaksanaan tradisi larungan dilakukan dalam beberapa tahapan. Sebelum malam 1 Suro, masyarakat terlebih dahulu menyembelih kambing kendhit, yaitu kambing berwarna hitam dengan garis putih melingkar di bagian tengah tubuhnya. Kambing ini dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan desa.
Prosesi penyembelihan dilakukan di sekitar kawasan Telaga Ngebel. Beberapa bagian tertentu dari kambing kemudian ditempatkan di lokasi-lokasi yang dianggap memiliki nilai spiritual oleh masyarakat setempat.
Sementara bagian lainnya dimasak dan dinikmati bersama sebagai bentuk kebersamaan warga.
Saat malam hari, para sesepuh dan masyarakat menggelar tirakatan yang dilanjutkan dengan kegiatan dian sewu atau pawai seribu obor mengelilingi telaga.
Suasana malam yang diterangi cahaya obor menciptakan pemandangan yang unik sekaligus penuh makna.
Puncak acara malam hari ditandai dengan prosesi melarung buceng lanang, yaitu tumpeng besar yang dihanyutkan ke Telaga Ngebel.
Selain itu, terdapat pula buceng wadon yang berisi hasil bumi seperti buah dan sayuran yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Diiringi Doa dan Kesenian Tradisional
Memasuki pagi hari, rangkaian tradisi berlanjut dengan berbagai pertunjukan seni tradisional seperti tari gambyong, tari bedaya larung, hingga jathilan. Beragam kesenian tersebut menjadi bagian penting yang menambah semarak perayaan.
Selain pertunjukan budaya, masyarakat juga menggelar doa bersama, istighosah, tahlil, serta berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Seluruh rangkaian acara menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki dan keselamatan yang telah diberikan.
Bagi masyarakat Ponorogo, tradisi larungan bukan sekadar acara budaya tahunan. Tradisi ini mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Hingga saat ini, tradisi larungan di Telaga Ngebel masih menjadi salah satu agenda budaya yang selalu menarik perhatian warga maupun wisatawan.
Selain menjaga kelestarian budaya lokal, tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata yang memperkenalkan kekayaan budaya Ponorogo kepada masyarakat luas.
