JAWA KILAT
Mode Gelap
Artikel teks besar

Gerbang Ceting jadi Upaya Duta Kesehatan Jatim 2026 Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat di Jemursari


Gerbang Ceting jadi Upaya Duta Kesehatan Jatim 2026 Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat di Jemursari
Duta Kesehatan Jawa Timur usai melakukan kegiatan edukasi (Dok. Ist)


JawaUpdate.com – Upaya menekan angka stunting tidak cukup hanya dilakukan ketika anak mulai tumbuh. 

Pencegahan justru harus dimulai sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia dua tahun atau yang dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). 

Pesan tersebut menjadi salah satu fokus utama yang disampaikan Winner Puteri Duta Kesehatan Jawa Timur 2026, Masruroh, dalam kegiatan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Dalam wawancara dengan Jawa Update, Kholil menjelaskan bahwa kepedulian masyarakat di wilayah Jemursari terhadap kesehatan ibu dan anak sebenarnya sudah menunjukkan perkembangan yang positif. 

Meski demikian, stunting masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama karena dampaknya dapat memengaruhi kualitas generasi mendatang.

"Berdasarkan hasil kegiatan yang kami lakukan di Balai RW 2 Jemursari, perhatian masyarakat terhadap kesehatan ibu dan anak sudah cukup baik. Namun, stunting tetap menjadi isu yang perlu mendapat perhatian karena pencegahannya harus dilakukan sejak dini," ucapnya. 

Selain masalah gizi pada anak, penyakit metabolik seperti diabetes melitus, hipertensi, dan asam urat mulai banyak dijumpai di tengah masyarakat.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan kesehatan saat ini semakin beragam. Tidak hanya berkaitan dengan tumbuh kembang anak, tetapi juga dipengaruhi oleh pola makan, kurangnya aktivitas fisik, hingga gaya hidup yang kurang sehat.

Kholil menilai masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah masih minimnya pemahaman mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak awal kehidupan. 

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi seimbang belum sepenuhnya diterapkan oleh semua keluarga.

Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala juga masih perlu ditingkatkan. 

Padahal, pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi berbagai penyakit lebih awal sehingga penanganannya menjadi lebih efektif. 

Di sisi lain, gaya hidup yang cenderung kurang aktif turut meningkatkan risiko munculnya penyakit metabolik pada usia produktif.

Melihat kondisi tersebut, Kholil bersama tim menghadirkan Program Gerbang Ceting atau Gerakan Bangun Cegah Stunting dan Penyakit Metabolik. 

Program ini tidak hanya berfokus pada pencegahan stunting, tetapi juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh serta melakukan deteksi dini terhadap penyakit metabolik.

Dalam pelaksanaannya, Kholil juga menemukan masih banyak anggapan yang kurang tepat mengenai stunting. Salah satu yang paling sering ditemui adalah anggapan bahwa stunting hanya ditandai dengan tubuh anak yang pendek.

Padahal, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi yang berlangsung dalam waktu lama. 

Dampaknya tidak hanya memengaruhi tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga kesehatan anak ketika dewasa. 

Masih ada pula masyarakat yang menganggap stunting merupakan faktor keturunan sehingga sulit dicegah. 

Kholil menegaskan bahwa sebagian besar kasus stunting sebenarnya dapat dihindari apabila kebutuhan gizi anak terpenuhi, pola pengasuhan berjalan dengan baik, lingkungan tetap bersih, dan pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin.

Kesalahpahaman lainnya adalah anggapan bahwa anak yang terlihat aktif pasti memiliki kondisi gizi yang baik. 

Menurutnya, penilaian status gizi tidak cukup hanya berdasarkan aktivitas anak. Pertumbuhan tetap harus dipantau melalui pengukuran tinggi badan, berat badan, serta pemantauan rutin di Posyandu.

Tidak hanya itu, pemahaman masyarakat mengenai penyakit metabolik juga masih perlu diluruskan. Banyak orang beranggapan bahwa diabetes, hipertensi, maupun asam urat hanya dialami oleh kelompok lanjut usia. 

Padahal, pola hidup yang kurang sehat membuat penyakit-penyakit tersebut kini semakin banyak ditemukan pada usia muda dan usia produktif.

Melalui Program Gerbang Ceting, Kholil berharap masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kesehatan jauh lebih baik daripada menunggu hingga penyakit muncul. 

Ia ingin program tersebut mampu menjadi gerakan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara masyarakat, kader kesehatan, tenaga kesehatan, pemerintah, dan Duta Kesehatan Jawa Timur agar edukasi kesehatan dapat menjangkau lebih banyak orang.

"Harapan kami, program Gerbang Ceting tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat secara berkelanjutan,"tambahnya. 

Dalam pelaksanaan kegiatan, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi di lapangan. Tidak semua warga memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan, sementara tingkat pengetahuan mengenai kesehatan juga berbeda-beda.

Untuk mengatasi hal tersebut, tim memilih menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. 

Berbagai media edukasi yang menarik juga dimanfaatkan agar informasi lebih mudah diterima. Selain itu, sesi diskusi dibuka sehingga masyarakat dapat menyampaikan pertanyaan sesuai dengan kondisi yang mereka alami.

Menurut Kholil, pendekatan yang komunikatif dan interaktif mampu meningkatkan antusiasme masyarakat. 

Dengan cara tersebut, pesan mengenai pentingnya pencegahan stunting maupun penyakit metabolik dapat dipahami dengan lebih baik dan diharapkan menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Posting Komentar