Kecewa Tampil di Film Pesta Babi, Mama Yasinta Datangi Polda dan Minta Penayangan Dihentikan
![]() |
| Mama Sinta yang mendadak viral (Dok. Ist) |
JawaUpdate.com - Film dokumenter Pesta Babi kembali menjadi perbincangan publik setelah salah satu sosok yang tampil di dalamnya, Yasinta Moiwend atau yang lebih dikenal sebagai Mama Yasinta, menyampaikan keberatan atas penayangan film tersebut.
Tokoh perempuan adat asal Merauke, Papua Selatan itu mendatangi Polda Metro Jaya pada Jumat (30/05) untuk melaporkan pihak yang terlibat dalam pendampingan advokasi selama ini, yakni LBH Pos Merauke.
Mama Yasinta menyatakan kekecewaannya karena wajah dan keterangannya muncul dalam film tanpa persetujuan yang menurutnya memadai. Dalam pernyataannya, ia juga meminta agar pemutaran film Pesta Babi dihentikan.
Film dokumenter ini sendiri mengangkat persoalan yang terjadi di Papua Selatan, khususnya terkait perubahan kawasan, eksploitasi sumber daya alam, serta dampaknya terhadap masyarakat adat.
Di dalam film tersebut turut disorot berbagai pihak yang dianggap memiliki peran dalam kebijakan pembangunan di wilayah tersebut.
Di sisi lain, LBH Pos Merauke merupakan lembaga yang selama ini diketahui mendampingi perjuangan masyarakat adat, termasuk Mama Yasinta, dalam menyuarakan penolakan terhadap proyek Food Estate di Merauke.
Kontroversi mengenai film ini sebenarnya sudah berkembang dalam beberapa pekan terakhir.
Sejumlah agenda nonton bareng (nobar) di berbagai daerah dilaporkan mengalami tekanan hingga ancaman dari oknum aparat, sehingga memicu perdebatan mengenai kebebasan pemutaran karya dokumenter.
Menanggapi sikap Mama Yasinta, sutradara film Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Dale, menyampaikan bahwa mereka menghormati keputusan yang diambil oleh tokoh adat tersebut.
Sementara itu, para kolaborator film juga mengeluarkan pernyataan yang menekankan bahwa Mama Yasinta merupakan figur penting dalam perjuangan masyarakat adat Malind.
Mereka meminta publik untuk tidak menyerang atau menghakimi dirinya di tengah perbedaan sikap yang muncul.
Jauh sebelum film ini dibuat, Mama Yasinta dikenal aktif menyuarakan aspirasi masyarakat yang terdampak perubahan wilayah di Merauke.
Bersama kelompok masyarakat adat lainnya, ia pernah menyampaikan keberatan melalui berbagai jalur, mulai dari aksi demonstrasi hingga mendatangi pemerintah daerah dan lembaga terkait.
Menurut berbagai pernyataan yang pernah disampaikan sebelumnya, masyarakat adat merasa aspirasi mereka belum memperoleh respons yang mereka harapkan.
Mereka juga mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan ruang hidup dan wilayah adat mereka.
Kini, polemik mengenai film Pesta Babi tidak hanya memunculkan perdebatan soal substansi dokumenter, tetapi juga membuka diskusi lebih luas mengenai etika dokumentasi, persetujuan narasumber, serta posisi masyarakat adat dalam karya yang mengangkat isu perjuangan mereka.
