Bikin Bulu Kuduk Merinding! Ini Mitos Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya Masyarakat Jawa hingga Kini
![]() |
| Mitos malam suro (Dok. Ist) |
JawaUpdate.com - Mitos malam 1 Suro masih menjadi pembahasan menarik setiap kali memasuki bulan Suro dalam kalender Jawa. Bulan ini bertepatan dengan Muharram dalam kalender Islam dan dianggap memiliki makna khusus oleh masyarakat Jawa.
Tak heran jika berbagai tradisi, kepercayaan, hingga pantangan masih sering dikaitkan dengan malam yang dianggap sakral tersebut.
Bagi sebagian orang, malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa. Momen ini juga dimanfaatkan untuk melakukan refleksi diri, berdoa, dan menjaga sikap agar terhindar dari hal-hal yang dianggap kurang baik.
Mitos Malam 1 Suro yang Kerap Dikaitkan dengan Kesialan
Saat malam 1 Suro terdapat sejumlah mitos yang telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dipercaya hingga sekarang. Berikut beberapa mitos yang paling sering dikaitkan dengan malam 1 Suro.
1. Tidak Dianjurkan Keluar Rumah pada Malam Hari
Salah satu kepercayaan yang cukup populer adalah larangan bepergian pada malam 1 Suro. Sebagian masyarakat meyakini bahwa lebih baik menghabiskan waktu di rumah dan mengurangi aktivitas di luar.
Menurut kepercayaan yang berkembang, keluar rumah tanpa tujuan penting pada malam tersebut diyakini bisa mendatangkan nasib kurang baik. Meski begitu, pandangan ini lebih bersifat budaya dan tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
2. Menghindari Hajatan atau Pesta Besar
Mitos lain yang cukup dikenal adalah anggapan bahwa bulan Suro bukan waktu yang tepat untuk mengadakan pesta atau hajatan, termasuk pernikahan dan khitanan.
Karena kepercayaan tersebut, banyak keluarga memilih menunda acara penting hingga bulan berikutnya. Namun, dalam ajaran Islam tidak terdapat larangan untuk menikah atau menggelar acara keluarga pada bulan Muharram maupun bulan Suro.
3. Menjaga Keheningan dan Mengurangi Banyak Bicara
Di beberapa daerah, malam 1 Suro identik dengan ritual yang dilakukan dalam suasana tenang dan khidmat. Salah satunya adalah tradisi berjalan tanpa berbicara atau yang sering dikenal sebagai tapa bisu.
Tradisi ini biasanya dilakukan sebagai bentuk perenungan diri dan pengendalian hawa nafsu. Karena itu, muncul anggapan bahwa malam 1 Suro sebaiknya diisi dengan ketenangan serta menghindari keramaian yang berlebihan.
4. Menjaga Ucapan dan Perkataan
Sebagian masyarakat Jawa juga percaya bahwa ucapan pada malam 1 Suro perlu dijaga dengan baik. Mereka menghindari kata-kata kasar, hinaan, maupun ucapan yang bernada negatif.
Kepercayaan ini muncul dari keyakinan bahwa perkataan buruk dapat membawa dampak yang tidak diinginkan. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tersebut, menjaga lisan tetap menjadi sikap positif yang dapat diterapkan kapan saja.
5. Tidak Disarankan Pindah atau Membangun Rumah
Mitos berikutnya berkaitan dengan aktivitas pindahan rumah maupun pembangunan hunian. Sebagian orang percaya bahwa memulai pembangunan atau berpindah tempat tinggal pada malam 1 Suro dapat membawa kesialan.
Karena alasan tersebut, ada masyarakat yang sengaja memilih hari lain untuk memulai pekerjaan besar yang berkaitan dengan rumah dan tempat tinggal.
Perlu dipahami bahwa berbagai mitos malam 1 Suro merupakan bagian dari tradisi budaya yang berkembang di tengah masyarakat Jawa selama bertahun-tahun. Kepercayaan tersebut tidak memiliki landasan khusus dalam ajaran Islam.
