Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Pelemahan Makin Cepat dalam Sebulan
![]() |
| Rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS (Dok. Ist) |
JawaUpdate.com - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dan mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah secara intraday.
Berdasarkan data perdagangan siang hari, rupiah berada di kisaran Rp17.510 per dolar AS atau melemah sekitar 0,60 persen.
Angka tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan pelemahan rupiah yang berlangsung semakin cepat dalam beberapa pekan terakhir.
Yang cukup mencolok, rupiah hanya membutuhkan waktu sekitar 26 hari perdagangan untuk bergerak dari level Rp17.000 ke Rp17.500 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah pertama kali ditutup di atas Rp17.000 per dolar AS pada 6 April 2026.
Pergerakan cepat ini dinilai sebagai sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang Indonesia semakin kuat. Dalam waktu kurang dari satu bulan perdagangan, rupiah sudah kehilangan nilai lebih dari Rp500 terhadap dolar AS.
Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, laju pelemahan kali ini menjadi yang tercepat sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020.
Saat itu, pasar keuangan global mengalami kepanikan besar sehingga membuat banyak mata uang, termasuk rupiah, tertekan tajam.
Pada Maret 2020, rupiah bahkan hanya membutuhkan tiga hari perdagangan untuk bergerak dari kisaran Rp14.500 menjadi Rp15.000 per dolar AS.
Setelah itu, pelemahan masih berlanjut dengan sangat cepat hingga menembus level Rp16.000 per dolar AS hanya dalam hitungan beberapa hari.
Namun setelah kondisi pandemi mereda, pergerakan rupiah sebenarnya sempat lebih stabil. Misalnya, pelemahan dari Rp16.000 menuju Rp16.500 per dolar AS membutuhkan waktu lebih dari 50 hari perdagangan.
Sementara itu, pergerakan dari Rp16.500 menuju Rp17.000 per dolar AS berlangsung lebih lama lagi, yakni sekitar 142 hari perdagangan.
Karena itu, kondisi saat ini dianggap menunjukkan adanya percepatan tekanan terhadap rupiah. Pelaku pasar pun mulai mencermati berbagai faktor global dan domestik yang dapat memengaruhi nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan.
Melemahnya rupiah biasanya dipengaruhi banyak faktor, mulai dari penguatan dolar AS secara global, kondisi ekonomi dunia, hingga sentimen investor terhadap pasar keuangan negara berkembang.
Jika tekanan terus berlanjut, pelemahan rupiah dapat berdampak pada berbagai sektor, termasuk kenaikan harga barang impor, biaya produksi industri, hingga tekanan terhadap inflasi dalam negeri.
