Peternak Probolinggo Sulap Kotoran Sapi jadi Biogas, Solusi Saat LPG Makin Mahal
![]() |
| Peternak Probolinggo ubah biogas untuk memasak (Dok. Ist) |
JawaUpdate.com – Kenaikan harga dan terbatasnya pasokan LPG mendorong berbagai pihak mencari sumber energi alternatif yang lebih hemat dan berkelanjutan.
Salah satu inovasi menarik datang dari Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, di mana seorang peternak berhasil memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi biogas untuk kebutuhan memasak.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Abdul Kholid Malaka, peternak sapi asal Desa Selogudig Kulon, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.
Berbekal dana pribadi sekitar Rp17 juta, ia membangun instalasi biogas berkapasitas 12 meter kubik untuk mengolah limbah ternaknya menjadi sumber energi.
Bahan baku biogas berasal dari kotoran 23 ekor sapi jenis Simmental dan Limousin yang dipeliharanya.
Limbah tersebut difermentasi di dalam reaktor khusus hingga menghasilkan gas metana yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak di area peternakan.
Menurut Kholid, gagasan membangun instalasi biogas berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat yang sering kesulitan memperoleh LPG.
Selain pasokan yang tidak selalu tersedia, harga gas juga terus mengalami kenaikan sehingga memberatkan sebagian warga.
"Harapan saya biogas ini bisa membantu masyarakat, terutama saat LPG langka dan mahal. Kotoran sapi yang selama ini dibuang bisa menjadi energi yang bermanfaat. Kendala kami saat ini hanya teknologi untuk memindahkan biogas ke tabung LPG secara aman dan legal," ujar Abdul Kholid
Ia menilai limbah peternakan yang selama ini kurang dimanfaatkan sebenarnya memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan sekaligus mampu mengurangi ketergantungan terhadap LPG.
Kholid mengungkapkan bahwa kapasitas instalasi biogas yang dimilikinya mampu menghasilkan energi dalam jumlah cukup besar.
Berdasarkan perhitungannya, produksi biogas tersebut setara dengan sekitar 1.000 tabung LPG ukuran 3 kilogram.
Meski memiliki potensi besar, pemanfaatan biogas saat ini masih terbatas untuk kebutuhan internal peternakan.
Salah satu kendala utama adalah belum tersedianya teknologi yang memungkinkan biogas dipindahkan ke tabung LPG secara aman dan sesuai aturan.
Ke depan, Kholid berharap tersedia teknologi yang dapat mendukung proses pengisian biogas ke tabung gas. Dengan begitu, masyarakat cukup membawa tabung kosong ke lokasi peternakan untuk diisi ulang tanpa harus membeli LPG baru.
Ia juga berharap pemerintah bersama instansi terkait dapat memberikan dukungan dalam bentuk teknologi, pelatihan, maupun pendampingan agar pemanfaatan biogas dari limbah peternakan semakin berkembang.
Menurutnya, jika dikelola dengan baik, limbah kotoran sapi tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber energi bersih yang lebih murah dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama ketika pasokan LPG sedang langka atau harganya meningkat.
