JAWA KILAT
Mode Gelap
Artikel teks besar

Krisis Air Bersih di Ponorogo Meluas, 1.910 Warga Terdampak

Krisis Air Bersih di Ponorogo Meluas, 1.910 Warga Terdampak
Penyaluran air bersih (Dok. Ist) 


JawaUpdate.com - Krisis air bersih di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, semakin meluas akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang. Sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat adanya penambahan wilayah yang membutuhkan bantuan distribusi air bersih. 

Salah satu lokasi terbaru yang terdampak adalah Dukuh Guyangan, Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung.

Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan penambahan wilayah tersebut membuat jumlah masyarakat yang mengalami krisis air bersih ikut meningkat.

Sebelumnya, jumlah keluarga terdampak tercatat sekitar 1.600 kepala keluarga (KK). Namun, berdasarkan perkembangan terbaru, jumlah warga yang membutuhkan bantuan air bersih telah mencapai 1.910 jiwa.

"Kekeringan memang mulai di 3 November ada tambahan yaitu Dukuh Guyangan, Desa Tugurejo, Slahung. Jadi kalau kemarin masih total keluarga 1.600-an, sekarang sudah 1.910 jiwa," ujar Masun saat dikonfirmasi, Jumat (6/11).

Bertambahnya daerah terdampak membuat BPBD Ponorogo harus meningkatkan jumlah pasokan air bersih yang dikirimkan kepada masyarakat.

Saat ini, kebutuhan distribusi air bersih sudah mencapai 111.000 liter setiap pekan. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan pengiriman sebelumnya yang masih berada di kisaran 96.000 liter per minggu.

"Dan kita kirim per minggu sudah menyentuh angka 111.000 liter per minggu. Kemarin kan masih di angka 90-an sekian ya per minggu, 96 ya, sekarang sudah 111.000. Karena ada tambahan di Guyangan, Guyangan ini cukup luas ini. Ada 88 KK dan 212 jiwa," terangnya.

Dukuh Guyangan sebenarnya bukan wilayah baru yang mengalami kekeringan. Kawasan tersebut sudah beberapa kali menghadapi persoalan serupa ketika musim kemarau tiba.

Di Desa Tugurejo sendiri terdapat dua wilayah yang kerap mengalami kesulitan air, yakni Dukuh Guyangan dan Dukuh Sumber.

Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum (PU) telah membangun sumur bor di Dukuh Sumber. Keberadaan fasilitas tersebut sempat membantu warga memenuhi kebutuhan air secara mandiri.

Bahkan, masyarakat di Dukuh Sumber sempat memiliki persediaan air yang cukup hingga tidak lagi membutuhkan bantuan distribusi dari BPBD.

Namun, kemarau panjang yang terjadi tahun ini diduga membuat debit air sumur tersebut berkurang. Kondisi itu akhirnya menyebabkan warga kembali membutuhkan bantuan pasokan air bersih.

"Memang langganan ya? Eh, ini langganan. Ada dua dukuh di sana sebenarnya, Guyangan sama di Sumber. Di Sumber kemarin kita bangunkan sumur oleh Dinas PU dan tahun ini enggak minta dan sempat dibagikan ke Guyangan. Cuma kayaknya karena kemarau kemarinnya cukup panjang, mungkin sumbernya mengecil, sehingga mau enggak mau akhirnya bersurat ke kami," jelas Masun.

Di tengah meluasnya krisis air bersih di Ponorogo, BPBD mencatat kawasan Dungus di Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, serta Dukuh Tumpuk, Kecamatan Sawoo, masih menjadi wilayah dengan kebutuhan distribusi paling tinggi.

Banyaknya kelompok permukiman warga yang mengalami kekurangan air membuat pengiriman ke dua kawasan tersebut membutuhkan perhatian lebih.

Sementara itu, permintaan bantuan dari Dukuh Guyangan mulai diterima BPBD pada awal November 2026.

Setelah menerima surat permohonan pada 2 November, petugas langsung menyiapkan pengiriman bantuan air bersih sehari setelahnya.

"Kita terima hari Senin kemarin tanggal 2, setelah itu tanggal 3 kita putuskan untuk mulai kita distribusi, gitu," imbuhnya.

Meski jumlah bantuan air bersih terus ditingkatkan, BPBD Ponorogo mengakui upaya tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan kekeringan.

Hal ini karena musim kemarau masih berlangsung sehingga sejumlah wilayah berpotensi tetap mengalami kekurangan pasokan air.

Untuk sementara, BPBD masih mengandalkan pengiriman air menggunakan armada tangki secara terjadwal. Rencana distribusi bantuan telah disiapkan hingga pertengahan bulan berikutnya sambil melihat perkembangan kondisi di lapangan.

"Kalau di awal-awal sampai bulan ini masih belum. Masih, kita masih punya jadwal pengiriman sampai nanti pertengahan bulan. Kita lihat sampai pertengahan bulan ya," pungkasnya.

Berdasarkan jadwal distribusi air bersih BPBD Ponorogo per 3 November 2026, bantuan telah menjangkau 16 dukuh yang tersebar di 9 desa dan 9 kecamatan.

Total air yang disalurkan mencapai 111.000 liter setiap pekan dengan dukungan 20 armada tangki atau rit pengiriman.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa dampak kekeringan di Ponorogo masih membutuhkan penanganan berkelanjutan, terutama untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak tetap terpenuhi.

Posting Komentar