Kebakaran Hanguskan Jutaan Hektare Lahan, Nasib Orangutan Kalimantan Terancam
![]() |
| Orang Utan yang terancam punah karena karhutla (Dok. Ist) |
JawaUpdate.com - Kebakaran hutan yang melanda Kalimantan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup orangutan. Asap tebal, suhu panas, dan rusaknya kawasan hutan membuat satwa langka ini kesulitan bertahan hidup di habitat aslinya.
Situasi tersebut mendorong tim konservasi untuk bergerak menyelamatkan orangutan yang terjebak di kawasan terdampak kebakaran.
Jamartin Sihite dari Borneo Orangutan Survival Foundation turut memimpin upaya penyelamatan bersama sejumlah petugas di lapangan.
Mengutip laporan National Geographic yang disebut terbit pada Sabtu, 10 Oktober 2026, kebakaran tahun ini dilaporkan telah menghanguskan sekitar dua juta hektare lahan dan merusak lebih dari separuh habitat utama orangutan di Kalimantan.
Kondisi semakin sulit karena kekeringan membuat lahan gambut mudah terbakar. Api yang menjalar ke lapisan gambut juga sulit dipadamkan sehingga kerusakan lingkungan dapat berlangsung lebih luas.
Salah satu orangutan yang berhasil diselamatkan dalam peristiwa ini bernama Novita. Orangutan muda tersebut ditemukan berada di atas pohon sengon ketika kebakaran mengancam kawasan di sekitarnya.
Tim gabungan yang melibatkan Kementerian Kehutanan harus melakukan tindakan khusus untuk mengevakuasi Novita.
Petugas menggunakan obat bius yang ditembakkan dari darat sebelum menangkapnya dengan jaring agar proses penyelamatan berlangsung aman.
Setelah berhasil dievakuasi, Novita menjalani pemeriksaan oleh tim medis. Hasilnya menunjukkan bahwa luka bakar mengenai sekitar 20 persen bagian tubuhnya, terutama tangan dan kaki.
Luka tersebut diduga muncul ketika Novita harus berpijak di permukaan tanah yang panas akibat kebakaran. Meski mengalami cedera cukup serius, kondisi kesehatannya dilaporkan stabil dan ia mendapatkan perawatan intensif.
Kasus Novita memperlihatkan betapa berbahayanya kebakaran hutan bagi satwa liar. Orangutan bukan hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga berisiko mengalami cedera ketika berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api.
Upaya penyelamatan orangutan tidak hanya dilakukan terhadap Novita. Di Kalimantan Barat, tim konservasi turut mengevakuasi induk orangutan bernama Mama Penja bersama anaknya, Penja, dari kawasan perkebunan kelapa sawit.
Keduanya ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Kekurangan makanan, dehidrasi berat, dan luka bakar menjadi masalah yang harus ditangani oleh petugas setelah proses evakuasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerusakan habitat dapat membuat orangutan terpaksa keluar dari kawasan hutan untuk mencari sumber makanan dan tempat yang lebih aman.
Dokter hewan Karmele Llano Sanchez dari YIARI menilai kerusakan lingkungan akibat kebakaran kali ini sangat besar. Jika habitat terus menyusut dan sumber makanan semakin sulit ditemukan, tekanan terhadap populasi orangutan berpotensi meningkat.
Padahal, orangutan merupakan satwa yang membutuhkan kawasan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kehilangan habitat dalam skala luas dapat mengganggu kelangsungan hidup mereka, terutama ketika kebakaran terjadi berulang kali.
Kebakaran hutan bukan satu-satunya persoalan yang mengancam orangutan di Indonesia. Perubahan fungsi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman juga mengurangi ruang hidup satwa tersebut dari waktu ke waktu.
Ketika wilayah hutan terpecah atau semakin sempit, orangutan lebih berisiko memasuki area yang digunakan manusia. Situasi ini dapat memicu konflik, terutama saat satwa mencari makanan di sekitar perkebunan atau permukiman.
Kombinasi kebakaran, kekeringan, dan penyusutan habitat membuat upaya perlindungan orangutan semakin menantang.
Penyelamatan satwa yang terluka memang penting, tetapi langkah tersebut perlu disertai perlindungan hutan agar mereka memiliki tempat yang aman untuk hidup.
Setelah kondisi cuaca membaik dan hujan kembali turun, pemulihan kawasan terdampak dapat dilanjutkan melalui rehabilitasi lahan dan penanaman kembali vegetasi.
Proses ini membutuhkan waktu serta kerja sama berbagai pihak agar ekosistem yang rusak dapat pulih secara bertahap.
Di sisi lain, pengawasan terhadap pembukaan lahan dan pencegahan kebakaran juga perlu diperkuat. Tanpa upaya tersebut, habitat orangutan akan terus menghadapi tekanan yang dapat membahayakan keberadaan mereka di alam liar.
Penyelamatan Novita, Mama Penja, dan anaknya menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan tidak berhenti ketika api padam.
Perlindungan habitat dan pemulihan ekosistem menjadi bagian penting dari upaya menjaga agar orangutan tetap dapat hidup di hutan Kalimantan.
