JAWA KILAT
Mode Gelap
Artikel teks besar

Hotman Paris Akhirnya Minta Maaf usai Hina Wartawan, Akui Emosi saat Bela Febrie Adriansyah l

Hotman Paris
Hotman Paris (Dok. Ist) 


JawaUpdate.com - Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada insan pers setelah ucapannya saat konferensi pers terkait kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, menuai kritik dari berbagai organisasi wartawan.

Permintaan maaf tersebut disampaikan Hotman melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. 

Dalam pernyataannya, ia meminta maaf kepada wartawan yang hadir saat konferensi pers maupun kepada seluruh organisasi wartawan di Indonesia atas perkataannya yang dianggap merendahkan profesi jurnalis.

Hotman mengaku menyesali ucapan yang terlontar ketika dirinya sedang menjawab pertanyaan awak media. Menurutnya, situasi saat itu berlangsung cukup tegang hingga membuat emosinya terpancing.

"Pernyataan maaf dari saya, Hotman Paris. Sehubungan dengan imbauan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan juga rekan-rekan wartawan lainnya. Dengan ini saya menyatakan maaf sebesar-besarnya atas pernyataan saya pada waktu konferensi pers di kasus mantan Jampidsus yang mengatakan 'lo punya otak gak sih?'," kata Hotman

Ia menjelaskan bahwa wartawan lebih dulu menanyakan dugaan adanya agenda tersembunyi atau hidden agenda dari sebuah institusi dalam penanganan perkara yang melibatkan kliennya. 

Atas pertanyaan tersebut, Hotman mengaku telah menjawab bahwa dirinya tidak memiliki informasi maupun kapasitas untuk memberikan penjelasan.

Namun, ketika pertanyaan lain kembali diajukan sebelum ia merasa selesai memberikan jawaban, emosinya disebut memuncak. Dalam kondisi tersebut, Hotman kemudian mengeluarkan kalimat yang belakangan menjadi sorotan publik.

"Akhirnya saya emosi karena saya sudah bolak balik mengatakan saya tidak tahu. Akhirnya saya jawab, 'kamu punya otak gak sih?'. Maksudnya, saya sudah jawab tadi saya tidak tahu. Sebab saya tidak mungkin bertanya apa hidden agenda dari suatu institusi penegak hukum," kata dia.

"Tapi terlepas dari fakta kejadian sebenarnya, waktu itu sudah sama sama emosional, tetap saya mengatakan permintaan maaf kepada wartawan tersebut dan kepada seluruh organisasi wartawan seluruh Indonesia karena selama ini saya juga sangat dekat kepada semua wartawan," ujar Hotman.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa ucapan tersebut tidak pernah dimaksudkan untuk merendahkan profesi wartawan. 

Hotman mengaku hanya bereaksi spontan karena merasa terus didesak menjawab pertanyaan yang menurutnya berada di luar kewenangannya.

Ia juga menekankan selama ini memiliki hubungan baik dengan banyak jurnalis sehingga tidak memiliki niat untuk menghina ataupun menyerang profesi tersebut.

Insiden yang menjadi perhatian publik itu terjadi saat konferensi pers di Gedung Kejaksaan Agung beberapa waktu lalu. 

Ketika menghadapi pertanyaan dari wartawan, Hotman sempat melontarkan sejumlah kalimat bernada keras, termasuk mempertanyakan kemampuan berpikir jurnalis, meminta wartawan untuk diam, hingga mengeluarkan pernyataan lain yang dinilai bersifat intimidatif.

Ucapan tersebut langsung memicu reaksi dari berbagai organisasi profesi wartawan. Sejumlah pihak menilai cara Hotman merespons pertanyaan media tidak mencerminkan sikap profesional dan dapat mencederai hubungan baik antara narasumber dengan insan pers.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum), Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred), hingga Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) sama-sama menyampaikan kecaman atas peristiwa tersebut.

Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, menegaskan bahwa pertanyaan kritis yang diajukan wartawan merupakan bagian dari tugas jurnalistik untuk memperoleh informasi yang berimbang. 

Menurutnya, jurnalis memiliki kewajiban menghadirkan berbagai sudut pandang dalam setiap pemberitaan sehingga pertanyaan kepada narasumber tidak semestinya dipandang sebagai bentuk serangan pribadi.

Herik juga mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi antarpihak, termasuk menghormati profesi lain. Ia menilai penggunaan kata-kata yang merendahkan dapat mengurangi nilai profesionalisme yang seharusnya dijunjung bersama.

Melalui permintaan maaf yang telah disampaikan, Hotman berharap polemik tersebut dapat diselesaikan dengan baik. 

Ia kembali menegaskan bahwa perkataannya lahir karena emosi sesaat, bukan karena adanya niat untuk merendahkan atau melecehkan profesi wartawan.

Posting Komentar